Kakanwil  Titip 5 Pesan Buat Pimpinan Ormas Islam Jelang Momen Pilkada


Foto bersama Kakanwil Kemenag Provinsi Maluku dengan sejumlah Pimpinan Ormas Islam usai pelaksanaan Rakor dan Workshop Literasi Zakat dan Wakaf di Hotel Everbright Ambon, Selasa (20/3).

Ambon, Inmas - Momentum lima tahunan Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada)/Pemilihan Presiden (Pilpres) bakal dipentaskan secara serentak di seluruh penjuru tanah air. Tidak terkecuali, menurut hasil rilisan Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) RI, Maluku termasuk empat daerah dengan tingkat kerawanan kampanye SARA tertinggi setelah Kalimantan Timur, Maluku Utara dan Papua.

 

Menyikapi hal tersebut, sorotan tajam datang dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, Fesal Musaad, S.Pd, M.Pd. Menurutnya, semakin maraknya penggunaan isu-isu agama dalam berbagai ajang perebutan kekuasaan memasuki kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) di bulan Juni 2018 sebentar nanti telah membuat banyak kalangan prihatin.

 

 

 

Ia meminta seluruh pimpinan Organisasi Masyarakat (Ormas Islam) turut memberikan sumbangsi kepada daerah berupa terus berupaya menyuarakan pesan kerukunan sekaligus menjadi duta perdamaian di Indonesia  dan Maluku pada khususnya.

 

 

 

Hal itu disampaikan Musaad dalam sambutannya sebelum membuka Rakor  Pimpinan Ormas Islam dan Workshop Literasi Zakat dan Wakaf Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku di Hotel Everbright Ambon, Selasa (20/3).

 

 

 

 

 

"Kami minta pimpinan ormas keagamaan mampu menebarkan kedamaian serta menyampaikan pesan agama secara utuh dan kompherensif ditengah panasnya pergolakan politik dengan mengatasnamakan agama," pinta Kakanwil dihadapan sejumlah pimpinan ormas Islam yang menghadiri Rakor tersebut. Turut hadir pula dalam kegiatan rakor ini Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Kristen, Nansij Latuheru, Pembimas Katolik, Bernardus Fanulene dan Pembimas Buddha, Naryoto, S.Pd, M.PdB.

 

 

 

 

 

Kakanwil tidak hanya menekankan pimpinan Ormas Islam, dihadapan pimpinan keagamaan lain diegaskan bahwa menyatukan keberagaman dan meleraikan permusuhan diantara sesama adalah domain seluruh pimpinan keagamaan manapun.

 

 

 

 

 

Terdapat lima pesan yang disampaikan Kakanwil sebagai bekal pegangan dalam menjalankan misi perdamaian sekaligus mampu menjadikan Maluku sebagai lahan eksportir moderasi terbesar di dunia.

 

 

 

 

 

Pertama, terus menjaga pengamalan nilai agama. Konten kitab suci harus ditafsirkan secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong, kemudian diamalkan melalui praktek amalia yang menunjukkan kesan positif dari sebuah agama.

 

 

 

 

 

Bahwa semua agama harus dijadikan sebagai fungsi pemersatu dan bukan pemecah belah kesatuan bangsa.

 

 

 

 

 

"Tidak boleh masuki unsur politik praktis dalam rumah ibadah. Jagalah netralitas dan terus menjaga kerukunan agar tetap terjaga stabilitas keamanan di negeri ini," desak Kakanwil.

 

 

 

 

 

Kedua, Kakanwil meminta agar tag line utama Kementerian Agama dalam menjalankan semua program kerjanya, yakni tebarkan kedamaian, terus digelorakan ke seluruh pelosok tanah air.

 

 

 

 

 

"Kedamaian perlu ditebarkan di lingkungan mana pun, entah itu kantor, rumah, pasar, mall, atau tempat lainnya. Sebab esensi utama semua agama tidak lain dan tidak bukan menebarkan  kedamaian," paparnya.

 

 

 

 

 

Ketiga, Kakanwil menegaskan penting menjaga "jihad informasi" sebagai lawan tanding terhadap penyebaran berita hoax.

 

 

 

 

 

"Kalau ikut menyebarkan hoax, maka akal sehat sudah hilang. Mari tata nalar berfikir kita agar kita selalu berpijak di atas kebenaran," terang Kakanwil.

 

 

 

 

 

Keempat, terus arahkan energi menjadi positif. Gunakan kemampuan diri kepada hal-hal yang berbaur surgawi. "Bukan minum mabuk terus buat kekacauan, saling menyalahkan orang lain, merasa lebih hebat dari yang lain. Semua itu hanya menjurus pada kerusakan moral bangsa yang semakin besar lagi," katanya.  

 

 

 

 

 

Dan yang kelima, lestarikan kearifan lokal sebagai warisan leluhur. Daerah ini sempat terpuruk didalam belenggu konflik. Kakanwil meminta, ormas-ormas keagamaan selalu menjaga warisan itu dan kemudian mewariskan lagi kepada generasi berikutnya.

 

 

 

 

 

"Sebab generasi yang paling hebat bukan saja mereka yang hanya mampu menjaga sebuah warisan, tetapi dapat mewariskan suatu warisan itu kepada generasi berikutnya," jelas Kakanwil.

 

 

 

 

 

Sebagai contoh dari kearifan lokal, Kakanwil menjelaskan Ain Ni Ain (bahasa adat Kei Maluku Tenggara) yang memiliki arti 'satu mempunyai satu atau satu memiliki satu' itu sebagai benteng keberagaman yang dapat berdampak positif bagi pembangunan kerukunan jika mampu dijaga dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

 

 

 

 

 

Kakanwil juga menyampaikan masukan kepada pimpinan ormas Islam untuk merangkul semua lembaga, seperti pengurus mesjid di tiap-tiap pelosok untuk duduk bersama merumuskan fatwa bersama mengenai hal-hal yang selama ini membuat resah umat dengan berbagai pertikaian yang hadir. 

 

 

 

 

 

Dengan demikian, umat Islam tidak lagi terpecah belah atas berbagai persoalan khilafiyah.

 

 

 

 

 

Sementara itu terkait Workshop Literasi, Kakanwil menyayangkan masyarakat pada umumnya belum memahami dengan baik potensi zakat dan wakaf.

 

 

 

 

 

"Kalau semua orang paham bahwa zakat ini ada hak orang miskin, tentu dapat berdampak positif bagi pembangunan perekonomian bangsa," ujarnya.

 

 

 

 

 

Olehnya itu, Kakanwil mengintruksikan agar literasi zakat dibudayakan di tengah-tengah masyarakat, sehingga umat Islam mengetahui hakikatnya.

 

 

 

 

 

"Pemahaman banyak orang hanya sebatas zakat fitrah saja. Padahal zakat mall yang berpotensi besar bagi kemajuan bangsa itu diabaikan. Zakat profesi yang mampu mengentaskan kemiskinan tidak terfikirkan," sesal Kakanwil.

 

 

 

 

 

Pada intinya, Kakanwil meminta kesadaran tanggung jawab bersama semua pihak dalam menjalankan program literasi zakat ini.

 

 

 

 

 

"Sayangnya banyak ditemui di banyak mesjid, sedikit sekali para khatib berbicara tentang zakat melalui khotbah dan ceramahnya," imbuhnya 

 

 

 

 

 

Kakanwil mengharapkan, dari program literasi zakat dan wakaf ini, ikhtiar Kemenag dalam menjalankan program kerja yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dapat menjadi catatan amal baik disisi Tuhan Yang Maha Esa. (ZAM)


E-Survey

PTSP KEMENAG MALUKU
Pelayanan PTSP Tahun 2018

E-Aplikasi

LPSE Kemenag
Webmail
Simpeg
Simpatika Kemenag
Layanan Pengaduan Online