Idul Adha 1442 H, Kemenag Maluku Sosialisasi Edaran Penyelenggaraan Salat Ied dan Kurban



Ambon, Inmas - Kementerian Agama (Kemenag) RI telah memgeluarkan sejumlah panduan pelaksanaan Idul Adha tahun 2021, yang bersamaan dengan masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Pulau Jawa dan Bali.

Hal tersebut dilakukan guna mendukung kebijakan pemerintah untuk menekan angka penularan covid-19.

Panduan itu dikemas dalam dua surat edaran, pertama, edaran Menteri Agama Nomor SE 16 tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Malam Takbiran, Salat Idul Adha, dan Pelaksanaan Kurban Tahun 1442 H/2021 M di Luar Wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. 

Kedua, edaran Menteri Agama No SE 17 tahun 2021 tentang Peniadaan Sementara Peribadatan di Tempat Ibadah, Malam Takbiran, Salat Iduladha, dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kurban Tahun 1442 H/2021 M di Wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Menyikapi hal tersebut, Kanwil Kemenag Provinsi Maluku menggelar rapat dan sosialisasi bersama perwakilan Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kota Ambon dan tokoh-tokoh agama.

Memimpin jalannya kegiatan, Kakanwil Kemenag Provinsi Maluku Jamaludin Bugis didampingi Plt Kabag TU M. Yasir Rumadaul.H Hadir perwakilan Karo Kesra Setda Maluku, Kabag Kesra Sekot Ambon Fenly Masawoy, Ketua MUI Maluku Abdullah Latuapo, Ketua MUI Kota Ambon Muhammad Rahanyamtel, Ketua Mathlaul Anwar Provinsi Maluku Abdul Kadir EL, Ketua NU Maluku Karnusa Serang, Ketua Muhammadiyah Maluku H. Latua beserta pejabat eselon III Kanwil Kemenag Provinsi Maluku.

"Edaran ini hadir untuk kemaslahatan kita bersama. Poin tujuannya disitu," jelas Kakanwil lewat kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Lt. II Kanwil Kemenag Provinsi Maluku, Kamis (15/7).

Kakanwil merincikan, sejumlah kegiatan yang diatur dalam surat edaran tersebut mulai dari takbiran keliling, pelaksanaan salat Idul Adha hingga penyembelihan hewan kurban.

Adapun rinciannya sebagai berikut, malam takbiran diselenggarakan dengan ketentuan jemaah malam takbiran wajib dalam kondisi sehat. Suhu badan di bawah 37 derajat celcius.

Malam takbiran hanya boleh diikuti oleh jemaah dengan usia 18 sampai dengan 59 tahun, hanya dapat diselenggarakan pada masjid/musala dengan status zona risiko penyebaran covid-19 zona hijau dan zona kuning.

Masjid/musala yang menyelenggarakan malam takbiran wajib menyediakan alat pengukur suhu tubuh, hand sanitizer, sarana mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir, masker medis, menerapkan pembatasan jarak dan memastikan tidak ada kerumunan, serta melakukan disinfeksi di tempat penyelenggaraan sebelum dan setelah penyelenggaraan malam takbiran.

Malam takbiran hanya dapat diikuti oleh jemaah masjid/musala dari warga setempat, dengan ketentuan maksimal 10 persen dari kapasitas ruangan, dengan pengaturan bergantian maksimal 5 jemaah.

Takbir keliling, baik dengan arak-arakan berjalan kaki maupun dengan arak-arakan kendaraan, dilarang dilaksanakan di semua zona risiko penyebaran covid-19.

"Terlihat takbir selama ini juga banyak yang memberikan kesan kurang positif, penuh dengan hura-hura, keributan dan menghilangkan nilai sakral dari takbir itu sendiri," jelasnya.

Kemudian Salat Idul Adha 1442 H/2021 M ditiadakan dan dialihkan ke rumah masing-masing pada kabupaten/kota dengan zona merah dan zona oranye, berdasarkan penetapan oleh pemerintah daerah dan satuan tugas penanganan covid-19 setempat. 

Salat Idul Adha hanya dapat diselenggarakan di luar kabupaten/kota dengan status zona merah dan orange sebagai berikut:

Penyelenggaraan Salat Idul Adha dapat dilakukan di masjid/mushalla/lapangan terbuka yang dikelola masyarakat, instansi pemerintah, dan perusahaan dengan jumlah jemaah 30 persen dari kapasitas.

Penyelenggara Salat Idul Adha wajib berkoordinasi dan dengan seizin pemerintah daerah, satuan tugas penanganan covid-19 setempat, dan aparat keamanan.

Penyelenggara Salat Idul Adha wajib Menyediakan alat pengukur suhu tubuh. Menyediakan hand sanitizer dan sarana mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir, menyediakan masker medis, menyediakan petugas untuk mengumumkan, menerapkan, dan mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan.

Jemaah dengan kondisi tidak sehat dilarang untuk mengikuti Salat Idul Adha, mengatur jarak antarshaf dan antarjemaah minimal satu meter dengan memberikan tanda khusus.

Memastikan tidak ada kerumunan sebelum dan setelah pelaksanaan Salat Idul Adha, melakukan disinfeksi di tempat penyelenggaraan sebelum dan setelah Salat Idul Adha.

Kemudian penyampaian Khutbah Idul Adha wajib harus memenuhi ketentuan, khatib memakai masker medis dan pelindung wajah.

Khatib menyampaikan khutbah Idul Adha dengan durasi maksimal lima belas menit.

Khatib mengingatkan jemaah untuk selalu menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan.

Sementara jemaah Salat Idul Adha wajib, berusia delapan belas sampai denga 59 tahun, dalam kondisi sehat, tidak sedang menjalani isolasi mandiri, dan tidak baru kembali dari perjalanan luar kota.

Menggunakan masker rangkap sejak keluar rumah, dan selama berada di area tempat penyelenggaraan Salat Idul Adha. Menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan menggunakan sabun, atau hand sanitizer.

"Menghindari kontak fisik seperti bersalaman, serta menjaga jarak antarshaf dan antarjemaah minimal satu meter, tidak berkerumun sebelum dan setelah Salat Idul Adha," tambahnya.

Khusus untuk pelaksanaan qurban, wajib memenuhi ketentuan, di antaranya penyembelihan hewan qurban dilaksanakan sesuai syariat Islam, termasuk hewan yang disembelih.

Penyembelihan hewan qurban berlangsung dalam waktu tiga hari, yakni pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, untuk menghindari kerumunan di lokasi pelaksanaan qurban.

Pemotongan hewan qurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan Ruminasia (RPH-R). Dalam hal keterbatasan jumlah dan kapasitas RPH-R, pemotongan hewan qurban dapat dilakukan di luar RPH-R dengan ketentuan.

Penerapan jaga jarak fisik dengan melaksanakan pemotongan hewan qurban, di area yang luas sehingga memungkinkan diterapkannya jaga jarak fisik. Penyelenggara hanya membolehkan petugas dan pihak yang berkurban untuk menyaksikan pemotongan hewan qurbannya.

"Menerapkan jaga jarak fisik antarpetugas pada saat melakukan pemotongan, pengulitan, pencacahan, dan pengemasan daging. Pendistribusian daging hewan qurban dilakukan oleh petugas ke tempat tinggal warga yang berhak," ujarnya.

Petugas yang mendistribusikan daging qurban wajib mengenakan masker rangkap dan sarung tangan, untuk meminimalkan kontak fisik dengan penerima. Penerapan protokol kesehatan dan kebersihan petugas dan pihak yang berkurban.

Pemeriksaan kesehatan awal yaitu melakukan pengukuran suhu tubuh petugas dan pihak yang berkurban, di setiap pintu/jalur masuk tempat penyembelihan dengan alat pengukur suhu tubuh .

"Petugas yang menangani penyembelihan, pengulitan, pencacahan daging, tulang, serta jeroan harus dibedakan. Setiap petugas yang melakukan penyembelihan, pengulitan, pencacahan, pengemasan, dan pendistribusian daging hewan harus menggunakan masker, pakaian lengan panjang, dan sarung tangan selama di area penyembelihan," jelasnya

Penyelenggara hendaklah selalu mengedukasi para petugas agar tidak menyentuh mata, hidung, mulut, dan telinga, serta sering mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer. Petugas menghindari berjabat tangan atau kontak langsung, serta memperhatikan etika batuk/bersin/meludah.

Petugas yang berada di area penyembelihan harus segera membersihkan diri (mandi) sebelum bertemu anggota keluarga.

Melakukan pembersihan dan disinfeksi seluruh peralatan sebelum dan sesudah digunakan, serta membersihkan area dan peralatan setelah seluruh prosesi penyembelihan selesai dilaksanakan.

"Saya minta surat edaran tersebut dapat disosialisasikan kepada masyarakat. Lisan tokoh agama sangat dihormati umat," tandasnya. (ZAM)


E-Survey

Dumas Kemenag Maluku
Survey Pelayanan Haji Maluku Tahun 2018
PTSP KEMENAG MALUKU
Pelayanan PTSP Tahun 2018
Pelayanan Pelaporan Gratifikasi

E-Aplikasi

SOP Kemenag RI
LPSE Kemenag
Webmail
Simpeg
Simpatika Kemenag
Layanan Pengaduan Online