Empat Pesan Kakanwil Dalam Seminar Moderasi IAKN Ambon


Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Maluku, Fesal Musaad, S.Pd, M.Pd, memberikan materi dalam Seminiar Sehari Moderasi Beragama yang dilaksanakan Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon di Hotel Sarian Ambon, Selasa (28/05).

AMBON,INMAS - Tampil sebagai panelis dalam Seminiar Sehari Moderasi Beragama yang dilaksanakan Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon,  Kepala Kantor  Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Maluku, Fesal Musaad, S.Pd, M.Pd menyampaikan empat hal mendasar  menciptakan harmonisasi kerukunan beragama melalui usaha membangun pemahaman moderasi beragama di Maluku. " Moderasi beragama itu memahami secara absolut keyakinan agama yang diyakini dan memberikan ruang bagi agama lain untuk meyakini ajaran agama dipahami,"  Demikian, disampaikan Fesal Musaad, di hadapan kalangan akademisi dan mashasiswa IAKN Ambon,  di Hotel Sarian Ambon, (28/05).

 

Menurutnya  Kakanwil ada empat  pesan penting yang harus dipahami oleh masyarakat terutama para mahasiswa dalam  mengimplementasikan pemahaman moderasi beragama di berbagai ruang kehidupan, mulai dari ruang keluarga, ruang pendidikan, sampai ruang sosial bermasyarakat. 

 

Pertama mengimplementasikan nilai-nilai ajaran agama yang diyakini.  Esensi dari ajaran agama adalah memanusiakan manusia, untuk itu masyarakat harus diberikan pemahaman untuk memgembalikan fungsi agama sebagai pemersatu hubungan persaudaran antar sesama manusia. "  Hakikat kehadiran agama adalah menciptakan kedamaian di muka bumi,  pesan-pesan ini harus hadir dan disampaikan kepada anak-anak didik, para mahasiswa harus mengambil peran ini," kata Kakanwil.

 

 

Kedua, Tebarkan kedamaian dimana saja,  pada seluruh lapisan masyarakat, pesan-pesan  menjaga hubungan baik antara sesama manusia. Jika menjumpai ada berita hoaks yang saat ini ramai di media-media sosial  yang menyesatkan tidak perlu dishare atau dibagikan, cukup sampai pada tangan kita dan hapus, " Bila kita berbagai berita hoaks maka itu sama nilainya kita menebar kebencian di ruang-ruang publik," kata Kakanwil.

 

Ketiga mengarahkan energi untuk berpikir positif artinya masyarakat harus melakukan hal-hal yang bernilai dan kreatif berinovasi. Potensi intelektualitas mahasiswa harus diarahkan sesuai tujuan akademik  untuk melakukan aktifitas yang baik, jangan cenderung negatif berpikir  memperdebatkan hal-hal yang jauh dari susbstansi pendidikan. "  Sangat merugi kalau tiap hari kita hanya berpkir untuk berkelahi berdebat sampai ke media sosial tentang hal hal yang jauh dari substansi perdamaian. Sebagai mahasiswa harus berpikir positif mengarahkan pikiran melakukan hal-hal  yang bernilai kreatif, inovatif, dan kritis,  " lanjut Kakanwil.

 

Dan  ke empat lestarikan dan bumikan kearifal lokal,  Karena sosial kultur dan budaya orang Maluku sangat kental dengan pemahaman agama yang moderat atau moderasi beragama.  Budaya Maluku juga  menjadi dasar menghargai perbedaan, banyak nilai-nilai kultural masyarakat yang mengikat kita. Sebut saja, Pela Gandong, Ain ni Ain, Kalwedo, Masohi, dengan simbolisasi Ale Rasa Beta Rasa, Potong Dikuku Rasa Didaging, Hiti Hiti Hala Hala, Kita Berasal dari Satu Leluhur dan masih banyak lagi menjadikan orang-orang Maluku sangat dewasa menghargai perbedaan.

 

Para leluhur di Maluku  menanamkan dan memberikan warisan budaya yang baik masyarakat.  Sebagai pewaris budaya leluhur kita harus menjadi generasi yang baik. " Generasi yang baik itu bukan hanya mampu memelihara warisan budaya, tapi generasi yang bisa mengukir satu peradaban yang nantinya akan dikenang dan diwarisi oleh the next generasi yang akang datang, "  tutup Fesal Musaad. (ASA)


E-Survey

PTSP KEMENAG MALUKU
Pelayanan PTSP Tahun 2018

E-Aplikasi

LPSE Kemenag
Webmail
Simpeg
Simpatika Kemenag
Layanan Pengaduan Online