Peringatan Pagerwesi di Lolong Guba, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Buru Ajak Umat Bangun Benteng Pengetahuan di Era Digital

08 April 2026

|

Muhammad Muzni

|

KABUPATEN BURU

Buru, (Inmas)-Peringatan Hari Suci Pagerwesi di Pura Dwi Jati Karsa, Desa Grandeng, Kecamatan Lolong Guba, Rabu (8/4/2026), berlangsung khidmat dan penuh makna spiritual.

 

Dalam momentum suci tersebut, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buru, Hadi Nur Slamet, S.Ag, menyampaikan dharma wacana yang menekankan pentingnya membangun ketahanan rohani dan moral di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan informasi.

 

Mengusung tema “Benteng Pengetahuan: Pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru di Tengah Badai Digital”, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang ibadah dan refleksi keagamaan, tetapi juga menjadi ajakan moral kepada umat untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Dharma di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

 

Suasana peringatan berlangsung dalam nuansa religius dan penuh penghayatan. Umat Hindu yang hadir tampak mengikuti rangkaian persembahyangan dengan tertib, sekaligus menyimak pesan-pesan keagamaan yang disampaikan sebagai bekal spiritual dalam menghadapi tantangan kehidupan modern.

 

Dalam dharma wacananya, Hadi Nur Slamet, S.Ag menegaskan bahwa makna Pagerwesi tidak dapat dipahami sebatas ritual tahunan, melainkan harus dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat “pagar” kehidupan melalui ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan kejernihan batin.

 

“Pagerwesi secara harfiah berarti pagar besi. Namun pagar yang dimaksud bukanlah tembok fisik, melainkan benteng batin, benteng pengetahuan, dan benteng spiritual yang menjaga manusia agar tidak mudah goyah oleh pengaruh zaman,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Hindu, Hari Suci Pagerwesi merupakan momentum pemujaan kepada Sang Hyang Pramesti Guru, manifestasi Tuhan sebagai sumber ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan tuntunan hidup.

 

Menurutnya, nilai tersebut justru semakin relevan di tengah era digital yang serba cepat, serba instan, dan sering kali membingungkan manusia dalam membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan.

 

“Hari ini kita hidup di zaman ketika informasi datang lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mencerna dan memahaminya. Teknologi memberi banyak kemudahan, tetapi juga membawa risiko disrupsi moral, krisis identitas, bahkan hilangnya ketenangan batin. Karena itu, umat perlu memiliki pegangan yang kuat,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perkembangan teknologi sejatinya bukan sesuatu yang harus ditolak, melainkan harus dihadapi dengan kecerdasan spiritual dan etika yang matang. Menurutnya, teknologi hanyalah alat, sedangkan arah penggunaannya harus tetap dikendalikan oleh hati nurani yang diterangi nilai-nilai Dharma.

 

“Teknologi adalah tools, alat bantu kehidupan. Tetapi alat tidak boleh mengambil alih arah hidup manusia. Yang harus memimpin tetaplah kebijaksanaan, kesadaran, dan tuntunan Dharma. Tanpa itu, manusia hanya akan menjadi konsumen informasi yang pasif dan mudah terseret arus,” ungkapnya.

 

Dalam konteks kehidupan sosial, pesan Pagerwesi juga dinilai sangat penting untuk memperkuat ketahanan keluarga, komunitas, dan generasi muda.

 

Di tengah maraknya penyalahgunaan media digital, hoaks, budaya instan, hingga melemahnya interaksi sosial yang sehat, umat diajak untuk membangun kembali nilai Viveka, yakni kemampuan membedakan antara yang baik dan buruk, yang nyata dan semu, yang bermanfaat dan yang merusak.

 

“Viveka adalah kemampuan rohani yang sangat dibutuhkan hari ini. Umat Hindu tidak cukup hanya pintar secara teknis, tetapi juga harus cerdas secara etis. Kita harus mampu memilah mana informasi yang membangun, mana yang merusak. Mana yang mendekatkan kita pada kebenaran, dan mana yang justru menjauhkan kita dari Dharma,” tegasnya.

 

Pesan tersebut menjadi sangat kontekstual bagi kehidupan masyarakat modern, terutama generasi muda yang tumbuh dalam ruang digital tanpa batas. Melalui peringatan Pagerwesi, umat diajak untuk tidak kehilangan arah di tengah dunia yang serba otomatis, serta tidak membiarkan teknologi menggantikan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

 

Menurut Hadi, bersujud di hadapan Sang Hyang Pramesti Guru pada hakikatnya adalah bentuk kerendahan hati manusia untuk terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus mencari terang pengetahuan sejati.

 

Dalam bahasa kekinian, ia mengibaratkan momen tersebut sebagai upaya “mengunduh kekuatan batin” agar manusia tetap ajeg dan tidak mudah rapuh menghadapi perubahan zaman.

 

“Di tengah dunia yang sibuk mengejar koneksi internet, jangan sampai kita kehilangan koneksi spiritual. Karena koneksi paling penting dalam hidup ini bukan hanya jaringan digital, tetapi hubungan antara manusia dengan Sang Guru Sejati, sumber kebijaksanaan alam semesta,” tuturnya.

 

Peringatan Hari Suci Pagerwesi di Pura Dwi Jati Karsa pun menjadi cerminan bahwa ajaran agama tidak pernah terpisah dari realitas sosial masyarakat. Nilai-nilai suci yang diwariskan dalam tradisi keagamaan sesungguhnya tetap relevan untuk menjawab tantangan kontemporer, termasuk dalam menghadapi arus digitalisasi yang terus berkembang.

 

Momentum ini juga memperlihatkan bahwa kehadiran Penyuluh Agama Hindu Kemenag Buru di tengah masyarakat bukan hanya sebatas menjalankan fungsi pembinaan keagamaan, tetapi juga menghadirkan narasi pencerahan yang membumi, kontekstual, dan memberi arah dalam kehidupan umat. Penyuluh agama hadir sebagai jembatan antara nilai-nilai spiritual dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat sehari-hari.

 

Melalui peringatan ini, umat diingatkan bahwa ilmu pengetahuan yang sejati bukanlah ilmu yang menjauhkan manusia dari nilai, melainkan ilmu yang menuntun manusia menuju keseimbangan, kedamaian, dan kesejahteraan bersama atau Jagadhita.

 

“Pagerwesi adalah alarm spiritual bagi kita semua. Ia mengingatkan bahwa benteng kehidupan harus diperkuat dengan ilmu, iman, dan kebijaksanaan. Jika pagar itu kuat, maka jiwa tidak akan mudah goyah oleh badai zaman,” pungkas Hadi.

 

Peringatan Hari Suci Pagerwesi di Desa Grandeng ini pada akhirnya tidak hanya meninggalkan kesan religius, tetapi juga menghadirkan pesan sosial yang kuat: bahwa di tengah dunia yang terus berubah, manusia tetap membutuhkan nilai, tuntunan, dan kesadaran spiritual sebagai fondasi hidup.

 

Dari pura, pesan itu bergema untuk masyarakat luas bahwa kemajuan zaman harus diimbangi dengan kedewasaan moral dan kejernihan batin.

 

(Muzni)

Share :

Artikel Lainnya