Buru, (Inmas)-Upaya pembinaan umat tidak hanya menyentuh aspek ibadah, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat karakter dan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Semangat itulah yang tampak dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan yang dilaksanakan oleh Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buru, Welma Tomhisa, bersama kelompok binaan Keluarga Allah Anugerah, di Desa Salwadu, Kecamatan Airbuaya, Rabu (8/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat, tertib, dan penuh penghayatan itu diawali dengan ibadah bersama yang dipimpin oleh salah seorang umat binaan.
Sejak awal pelaksanaan, nuansa kekeluargaan dan rasa syukur kepada Tuhan begitu terasa, mencerminkan semangat umat dalam membangun kehidupan rohani yang bertumbuh dan berakar kuat pada firman Tuhan.
Dalam kesempatan tersebut, Welma Tomhisa menyampaikan sharing firman Tuhan dengan mengangkat tema “Jujur atau Kebohongan”, yang diambil dari Matius 5:37: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
Menurut Welma, ayat tersebut merupakan bagian penting dari Khotbah di Bukit, ketika Yesus mengajarkan standar hidup yang luhur bagi umat-Nya. Ia menegaskan bahwa kejujuran bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari identitas iman yang harus tampak dalam tutur kata, sikap, dan tindakan setiap orang percaya.
“Tuhan menghendaki agar umat-Nya hidup dalam ketulusan. Ketika kita berkata ‘ya’, maka itu harus sungguh-sungguh berarti ya. Ketika kita berkata ‘tidak’, maka itu harus benar-benar berarti tidak. Itulah wujud integritas yang dikehendaki Tuhan dalam kehidupan orang percaya,” ujar Welma.
Ia menjelaskan bahwa pesan utama dari Matius 5:37 adalah kejujuran yang sederhana, tulus, dan dapat dipercaya, tanpa perlu dibungkus dengan sumpah, janji manis, atau kata-kata berlebihan untuk meyakinkan orang lain.
Dalam pandangan iman Kristen, kata-kata yang jujur lahir dari hati yang benar, sedangkan kebohongan dan manipulasi bahasa menjadi pintu masuk bagi rusaknya kepercayaan dan relasi antarsesama.
“Sering kali orang merasa harus menambah-nambahi perkataan agar terlihat meyakinkan. Padahal, Yesus justru mengajarkan bahwa orang yang hidup dalam kebenaran tidak membutuhkan kepalsuan untuk dipercaya. Kejujuran adalah kesaksian hidup yang paling nyata,” lanjutnya.
Dalam penyampaian materinya, Welma juga menekankan perbedaan mendasar antara kejujuran dan kebohongan. Kejujuran, katanya, adalah keberanian untuk berkata dan bertindak benar dengan motivasi yang tulus, sedangkan kebohongan merupakan bentuk penyimpangan moral yang lahir dari keinginan untuk menipu, memanipulasi, atau membangun citra palsu demi keuntungan pribadi.
Bagi masyarakat, pesan ini memiliki makna yang sangat relevan. Kejujuran bukan hanya nilai spiritual di ruang ibadah, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam kehidupan keluarga, pendidikan anak, pergaulan sosial, pelayanan publik, hingga kehidupan bermasyarakat. Sebuah lingkungan yang dibangun di atas kejujuran akan melahirkan rasa saling percaya, ketenteraman, dan hubungan sosial yang sehat.
“Kalau kejujuran mulai ditanamkan dari keluarga, dari persekutuan kecil seperti ini, maka kita sedang menyiapkan masyarakat yang lebih sehat secara rohani dan sosial. Firman Tuhan harus hidup dalam perilaku, bukan hanya didengar lalu dilupakan,” ungkap Welma.
Ia menambahkan, tujuan pengajaran Yesus dalam ayat tersebut bukan hanya agar umat menghindari kebohongan, tetapi juga agar mereka membangun karakter yang utuh, di mana perkataan dan perbuatan berjalan selaras.
Orang percaya, lanjutnya, dipanggil untuk menjadi pribadi yang dapat dipercaya, menjadi teladan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, serta menjauhkan diri dari segala bentuk tipu daya dan kemunafikan.
Lebih jauh, Welma mengingatkan bahwa kejujuran adalah bagian dari kesaksian iman di tengah dunia yang kerap dibayangi oleh kepura-puraan, manipulasi, dan budaya saling menutupi kesalahan. Karena itu, ia mengajak seluruh umat binaan untuk berani mengambil keputusan hidup yang benar, sekalipun kadang tidak mudah untuk dijalani.
“Sebagai anak-anak Allah, kita harus berani menentukan pilihan: apakah kita mau terus hidup dalam kebohongan, atau memilih hidup jujur di hadapan Tuhan dan sesama. Keputusan itu harus dimulai dari hari ini, dari hal-hal kecil, dan dari diri kita sendiri,” tegasnya.
Pesan penutup dalam bimbingan malam itu pun menjadi refleksi mendalam bagi seluruh peserta, bahwa hidup dalam kejujuran adalah jalan iman yang harus dipilih secara sadar dan terus-menerus. Kejujuran bukan hanya soal berkata benar, tetapi juga tentang membangun hidup yang berkenan kepada Tuhan dan membawa damai bagi sesama.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa kehadiran penyuluh agama di tengah masyarakat bukan semata sebagai penyampai materi keagamaan, melainkan sebagai pendamping umat dalam membangun kualitas hidup yang lebih baik.
Melalui pembinaan yang menyentuh persoalan karakter dan nilai-nilai kehidupan, penyuluh agama ikut berperan dalam memperkuat ketahanan moral dan spiritual masyarakat di akar rumput.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan umat binaan Keluarga Allah Anugerah semakin bertumbuh dalam iman, semakin teguh dalam kebenaran, dan mampu menghadirkan nilai kejujuran sebagai gaya hidup yang nyata dalam keluarga, gereja, dan masyarakat.
Kejujuran yang sederhana, tulus, dan konsisten adalah bentuk kesaksian iman yang paling kuat. Dari perkataan yang benar, lahir kepercayaan; dari kepercayaan, tumbuhlah kehidupan bersama yang damai dan bermartabat.
Kalau Anda mau, saya juga bisa bantu buatkan versi yang lebih singkat dan padat khusus format upload website Kemenag Buru, atau versi dengan gaya berita Humas yang lebih formal dan lebih “tajam” untuk publikasi resmi.
(Muzni)