Ambon, Inmas – Dalam upaya memperkuat fondasi moral generasi muda di tengah tantangan zaman, Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Ambon menggelar bimbingan dan penyuluhan (Bingluh) bagi kelompok Pramuka 13. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 8 April 2026 ini, fokus pada pembentukan karakter siswa yang berlandaskan spiritualitas mendalam. Program ini menjadi bagian dari agenda rutin Kemenag untuk memastikan nilai-nilai religius tetap menjadi kompas utama bagi para pelajar dalam berorganisasi maupun bermasyarakat.
Penyuluhan kali ini menghadirkan Jermias J. Maloky sebagai narasumber utama, didampingi oleh tim penyuluh yang terdiri dari Lifke Sarimanela, Mordekay Dundu, dan Robert Batmanlusi. Kehadiran para penyuluh ini disambut antusias oleh anggota Pramuka 13 yang berkumpul untuk mendalami materi bertajuk "Siswa yang Takut Akan TUHAN". Suasana khidmat menyelimuti sesi diskusi saat tim memaparkan pentingnya integritas diri yang dimulai dari pengenalan akan nilai-nilai ketuhanan yang murni.
Dasar Alkitabiah yang diangkat dalam pertemuan ini merujuk pada Amsal 8:13, yang menegaskan bahwa "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan." Jermias J. Maloky dalam paparannya menekankan bahwa takut akan TUHAN bukanlah perasaan ngeri atau ketakutan yang melumpuhkan, melainkan sebuah bentuk hormat dan ketaatan yang tulus. Hal ini diwujudkan melalui sikap menjauhi kesombongan, kecongkakan, serta tingkah laku yang tidak terpuji dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang siswa.
Lifke Sarimanela dalam kesempatan tersebut turut memberikan penguatan mengenai peran penting etika dalam pergaulan remaja. Ia menekankan bahwa rasa takut akan TUHAN harus membuahkan sikap saling menghargai dan kasih sayang antar sesama anggota Pramuka. Dengan membenci kejahatan, siswa diajak untuk menjadi pribadi yang lebih peka terhadap kebenaran dan mampu menolak segala bentuk godaan negatif yang merusak masa depan.
Lebih lanjut, Mordekay Dundu menambahkan bahwa sikap takut akan TUHAN harus tecermin dalam kedisiplinan dan kejujuran di lingkungan sekolah. Menurutnya, siswa yang memiliki rasa takut akan TUHAN tidak akan terjebak dalam praktik kecurangan seperti menyontek atau perundungan (bullying). Sebaliknya, mereka akan menjadi pelopor kebaikan yang membawa dampak positif bagi rekan-rekan sebayanya di Kota Ambon.
Robert Batmanlusi juga memberikan perspektif praktis mengenai bagaimana nilai spiritual ini selaras dengan Dasa Darma Pramuka. Ia menjelaskan bahwa seorang Pramuka yang religius adalah mereka yang mampu menyelaraskan antara iman dan perbuatan. Dengan menanamkan rasa takut akan TUHAN, para anggota Pramuka 13 diharapkan mampu menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kematangan spiritual yang mumpuni.
Pihak Kemenag Kota Ambon menilai bahwa bimbingan kelompok seperti ini sangat krusial di era digital, di mana arus informasi seringkali mengabaikan batasan etika. Melalui pembinaan yang terarah oleh para penyuluh berpengalaman, para siswa dibekali tameng mental untuk menyaring pengaruh negatif dari luar. Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata sinergi antara lembaga keagamaan dan organisasi kepanduan dalam mencetak kader bangsa yang berintegritas tinggi.
Menutup rangkaian kegiatan, tim penyuluh berharap agar benih iman yang ditaburkan hari ini dapat tumbuh subur dalam tindakan nyata. Kemenag Kota Ambon berkomitmen untuk terus mengawal pertumbuhan karakter siswa melalui program-program serupa di berbagai institusi pendidikan. Dengan demikian, visi untuk menciptakan generasi emas yang berkarakter dan takut akan TUHAN di Maluku dapat segera terwujud secara nyata dan berkelanjutan.